PENUTUP KEPALA

Bermakna : topi kaum laki-laki dalam bahasa Tamiang disebut "tengkulok" merupakan topi adat yg dipakai ketika menggunakan pakaian adat Melayu Tamiang

 

PAYUNG

Bermakna : melindungi dan memberi keteduhan dengan lembar dan titik untaian payung berjumlah 17

 

ANGKA 17

Bermakna : menandakan hari jadi Aceh Tamiang yang ke 17

 

BAYANGAN SENJATA DI ATAS KEPALA ANGKA 7

Bermakna : senjata khas Aceh Tamiang yg bernama "Tumbuk Lada"

 

TULISAN KABUPATEN ACEH TAMIANG 2002-2019, 10 APRIL

Bermakna : bahwa Kabupaten Aceh Tamiang ditetapkan pada tanggal 10 April 2002

 

PADI DAN KAPAS

Bermakna : kemakmuran akan sumber daya alam Aceh Tamiang

 

LATAR GEDUNG TINGGI

Bermakna : harapan akan pembangunan, kemandirian Aceh Tamiang yang tinggi

 

BUNGA MELATI

Bermakna : bunga yang dulunya tumbuh subur di Tamiang, namun kini sudah langka dan merupakan motif tenun songket asli yg dipakai pada baju adat raja-raja atau ratu di kerajaan Tamiang

 

PITA MERAH PUTIH

Bermakna : bendera merah putih, cinta kepada NKRI

 

BINTANG, PUCUK REBUNG, KITAB DAN TEPAK SIRIH

Bermakna : lambang Kabupaten Aceh Tamiang

 

GARIS BERGELOMBANG

Bermakna : aliran sungai Tamiang yg merupakan sungai yg mengalir panjang di Kabupaten Aceh Tamiang

 

TULISAN ACEH TAMIANG MEMBANGUN, MANDIRI DAN ISLAMI

Bermakna : harapan dan cita2 untuk Masyarakat Aceh Tamiang agar bersama sama membangun Aceh Tamiang menjadi Mandiri dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islami dalam pelaksanaan Syari'at Islam.

 

 

*HUMAS ACEH TAMIANG

.

 

BINGKAI SEGI LIMA Dengan warna kuning yang diapit oleh warna hijau dapat diartikan kemuliaan dalam kesejahteraan dan kemakmuran sebagai daerah yang dalam kehidupan bernegara berada dibawah dasar falsafah Pancasila dan kehidupan beragama dengan tuntunan rukun Islam yang lima.

 

PUCOK REBONG Adalah lambang dan sejarah masyarakat Tamiang yang kekuatan legendanya telah mengikat dalam kehidupan masyarakat sebagai awal dari asal kata Tamiang dan dapat memberi makna kepada suatu pertumbuhan yang kokoh dalam persatuan, hidupnya yang berumpun dapat dicerminkan pada kehidupan bambu, dimana yang muda menjadi benteng pelindung mengelilingi yang lebih tua berada ditengah.

 

TEPAK SIREH Adalah lambang adat yang dimiliki oleh 3 (tiga) suku perkauman di Tamiang yaitu Suku Perkauman Aceh, Suku Perkauman Tamiang, dan Suku Perkauman Gayo. Tepak adalah tempat sireh yang disusun sebagai sempene resam pengiring sembah pembuka madah, ketika kata akan dimulai, sireh sombul disorong dahulu. Sireh juga melambangkan persahabatan dan persaudaraan dimana setiap orang menyodorkan sireh untuk dimakan, berarti perdamaian dan persahabatan kesemuanya merupakan pelambang rukun dan damai mencakup seluruh ruang lingkup tatakrama kehidupan. Peranan tepak yang berisi sireh susun merupakan kelengkapan peradapan dari resam qanun yang tersimpul dalam kate tetuhe ” Mulie Kaom Bersireh Tepak, Kembang Kerabat Manih Bahase “.

 

KAPAS DAN PADI Melambangkan kehidupan pertanian yang dapat membawa kepada kemakmuran dalam usaha yang gigih. Pertanian yang merupakan usaha dari sebahagian masyarakat wilayah Tamiang baik dari tanaman keras tahunan seperti kelapa sawit, karet dan lain-lain yang telah memberikan hasil bagi pendapatan daerah serta tanaman jangka pendek seperti palawija yang mampu membawa kepada kehidupan masyarakat yang makmur dari berbagai hasilnya disamping perluasan areal percetakan sawah baru yang juga membawa arah kemakmuran masyarakat.

 

MENARA MINYAK Sebagai lambang dari sumber daya hasil bumi berupa minyak dan gas bumi yang dikelola oleh Perusahaan Tambang Minyak Nasional (Pertamina) milik Pemerintah serta lambang kelautan yang merupakan kekayaan hasil laut, disamping sebagai sarana akses transportasi bagi lalu lintas perdagangan juga adalah sumber yang dapat memberikan kemakmuran masyarakat.

 

BUKU Merupakan lambang dari ilmu pengetahuan bagi sumber daya manusia yang dapat meningkatkan kwalitas melalui peningkatan minat baca kepada sumber- sumber ilmu pengetahuan.

 

BINTANG Adalah lambang dari ketuhanan, dimana masyarakat wilayah Tamiang dalam kehidupannya ta’at dan tunduk dari tuntunan syari’at Islam secara berdampingan dengan adat istiadat Tamiang. Ikatan yang mempersatukan padi dan kapas berjumlah 8 (delapan) ikatan, adalah lambang persatuan diantara masyarakat dari 8 (delapan) Kecamatan. Kabupaten Aceh Tamiang mencakup 8 (delapan) Kecamatan yang terdiri dari berbagai etnis dan suku bangsa diantaranya Suku Tamiang, Suku Aceh dan Suku Gayo dimana merupakan suku asli dari wilayah tamiang disamping suku pendatang yang telah menetap di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang seperti Jawa, Batak, Minang, Tionghoa dan lain-lain. Semuanya etnis dan suku hidup rukun, damai dan bersatu serta membaur dengan keberadaan masyarakat asli Tamiang dengan toleransi yang tinggi dan merupakan satu prinsip yang telah diwarisi secara temurun dikenal dengan ungkapan ” Digoyang Buleh, Dicabut Te’ek “. Toleransi tersebut dibatasi dalam wewenang yang nenberikan kebebasan terarah dimana tercermin dalam kate tetuhe ” Tande Belang Ade Batehnye, Tande Empus Berantare Paga “.

 

JUMLAH 2 (DUA) RIAK AIR LAUT DAN 7 (TUJUH) ANAK TANGGA MENARA MINYAK adalah lambang dari hari lahirnya Kabupaten Aceh Tamiang yaitu tanggal 2 Juli 2002. Kabupaten Aceh Tamiang lahir selain dari perjuangan panjang masyarakat Tamiang juga didukung oleh berbagai potensi daerah, diantaranya yang terbesar adalah Perusahaan Tambang Minyak Nasional (Pertamina) yang memberikan kontribusi besar bagi lahir dan berkembangnya Kabupaten Aceh Tamiang disamping potensi kelautan diantaranya tambak udang dan tambak ikan dan merupakan salah satu aset pendapatan daerah.

.